Kriteria Obat Bahan Alam (Perbedaan Jamu, OHT dan Fitofarmaka)

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan obat hayati. Masyarakat Indonesia pun banyak yang mengkonsumsi obat yang berasal dari bahan alam. Mereka percaya, obat herbal relatif lebih aman karena efek samping dibanding obat sintetik jauh lebih kecil.

Namun saat ini obat bahan alam telah melalui berbagai macam penelitian sehingga mengalami perkembangan. Secara garis besar obat bahan alam di bagi menjadi 3 kriteria, yaitu jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka.

Masih banyak masyarakat yang belum mengerti perbedaan ketiga kriteria tersebut. Maka dari itu, artikel ini kan menjelaskan perbedaan kriteria obat bahan alam.

Berdasarkan SK Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.2411, kriteria obat bahan alam digolongkan sebagai berikut:

Data Primer
Agar lebih mengerti, berikut ini contoh pruduk dari masing-masing kriteria tersebut:

JAMU

Obat bahan alam ini yang paling banyak ditemui. Kita bisa mendapatkannya di pasar tradisional, penjual jamu gendong, ataupun pruduk jamu yang telah diproduksi oleh pabrik. Beberapa produk jamu yang masih diproduksi secara manual yaitu, kunir asem, beras kencur, cabe puyang, dan sebagai nya. Sedangkan produk jamu keluaran pabrik/industri jamu yaitu, Tolak Angin (PT Sido Muncul), Pil Binari (PT Tenaga Tani Farma), Curmaxan dan Diacinn (Lansida Herbal), dll.

OBAT HERBAL TERSTANDAR (OHT)

OHT memiliki tingkatan lebih tinggi daripada jamu karena telah melewati uji praklinik (uji pada hewan uji). Uji tersebut dilakukan untuk membuktikan dan menjamin keamanan obat bahan alam. Beberapa contoh produk OHT yaitu, Diapet (PT Soho Indonesia), Kiranti (PT Ultra Prima Abadi), Psidii (PJ Tradimun), Diabmeneer (PT Nyonya Meneer), dll.

FITOFARMAKA

Kelas yang lebih tinggi dari OHT adalah fitofarmaka. Agar suatu obat bahan alam dapat digolongkan sebagai fitofarmaka, maka obat bahan alam tersebut harus melewati tahapan uji klinik. Uji klinik merupakan serangkaian uji yang dilakukan terhadap manusia dengan tujuan untuk mengetahui efektifitasnya. 

Diharapkan obat fitofarmaka mampu menyaingi efek terapi dan popularitas dari obat sintetik. Beberapa contoh produk fitofarmaka yaitu, Nodiar (PT Kimia Farma), Stimuno (PT Dexa Medica), Rheumaneer PT. Nyonya Meneer), Tensigard dan X-Gra (PT Phapros).

Itulah tiga kriteria produk bahan alam dan tahapan yang harus dilalui oleh produsen obat bahan alam. Semua uji tersebut ditempuh sebagai upaya menjamin keamanan konsumen.

Artikel Terkait

Kriteria Obat Bahan Alam (Perbedaan Jamu, OHT dan Fitofarmaka)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email