Madu: Sejarah Warisan Pengobatan sejak Zaman Kuno

Madu merupakan salah satu warisan para leluhur yang telah digunakan dalam berbagai macam cara, seperti untuk makanan dan untuk obat.

Khasiatnya yang sangat hebat dan kuat membuat salah satu makanan ini sangat disukai oleh siapapun.

Beberapa kegunaan madu yang masih digunakan hingga saat ini, Antara lain produk perawatan kulit, wajah dan rambut. Namun tahukah anda, kandungan kimia apa saja yang terdapat di dalam madu alami?

Dikutip dari Iranian Journal of Basic Medical Sciences, madu alami mengandung sekitar 200 zat, termasuk asam amino, vitamin, mineral dan enzim, tetapi kandungan paling banyak adalah gula dan air. Itulah mengapa madu terasa begitu manis.

Komposisi karbohidrat utama madu adalah fruktosa (32,56-38,2%) dan glukosa (28,54-31,3%), yang mewakili 85-95% dari total gula yang mudah diserap di saluran pencernaan.

Gula lain yang terdapat dalam kandungan madu termasuk disakarida seperti maltosa, sukrosa, turanose isomaltose, nigerose, melibiose, panose, maltotriosa, melezitosa. Madu mengandung oligosakarida, yaitu fructooligosaccharides (4-5%), yang berfungsi sebagai agen probiotik.

Air merupakan komponen terpenting kedua dalam manfaat madu. Asam organik (0,57%) bertanggung jawab untuk keasaman madu dan menimbulkan rasa yang khas.

Kandungan mineral berkisar antara 0,1% - 1,0%. Kalium merupakan komponen mineral terbesar, diikuti kalsium, magnesium, natrium, belerang dan fosfor. Elemen lain termasuk zat besi, tembaga, seng dan mangan meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

Senyawa nitrogen, vitamin C, B1 (tiamin) dan B2 (riboflavin), dan senyawa kompleks seperti asam nikotinat, vitamin B6 dan asam panthothenic juga terkandung dalam madu.

Menurut penelitan terbaru, madu memiliki kandungan protein spesifik yang jumlahnya berbeda sesuai dengan asal lebah.

Lebih lengkapnya, komposisi madu dapat dilihat pada tabel berikut:


Berbagai enzim seperti oksidase, invertase, amilase, katalase, dsb terkandung di dalam madu. Namun, enzim utama dalam madu adalah invertase (saccharase), diastase (amilase) dan oksidase glukosa.

Oksidase glukosa enzim menghasilkan hidrogen peroksida (yang memberikan sifat antimikroba) bersama dengan asam glukonat dari glukosa yang membantu dalam penyerapan kalsium. Katalase membantu dalam memproduksi oksigen dan air dari hidrogen peroksida.





Madu Dalam Sistem Ayurveda Dari India
Ayurveda adalah kata majemuk yaitu, Ayus yang berarti 'hidup' atau 'prinsip hidup', dan kata veda, yang mengacu pada 'sistem pengetahuan'. Oleh karena itu 'Ayurveda' secara harfiah diterjemahkan sebagai 'pengetahuan tentang hidup’. Peradaban kuno ini menganggap madu salah satu hadiah dari alam yang paling luar biasa bagi umat manusia.

Secara tradisional, menurut teks-teks Ayurveda, madu adalah anugerah bagi orang-orang yang memiliki pencernaan lemah. Penggunaan madu juga sangat bermanfaat dalam pengobatan batuk yang mengganggu.

Madu dianggap oleh para ahli Ayurveda, sebagai bahan alami yang berharga dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi. Selain itu madu telah digunakan selama berabad-abad untuk pengobatan insomnia karena memiliki efek sedative (penenang).

Para ahli Ayurveda tradisional merekomendasikan madu untuk mengatasi gangguan kulit (seperti luka dan luka bakar), nyeri jantung dan palpitasi, semua ketidakseimbangan dari paru-paru dan anemia.

Madu memiliki sejarah panjang digunakan untuk berbagai penyakit mata, terutama berguna dalam pencegahan katarak.

Madu Di Mesir kuno
Madu di Mesir kuno adalah penyembuh paling populer yang disebutkan 500 kali dalam 900 ramuan obat. Ramuan untuk salep luka ditemukan di Smith papyrus (teks dari Mesir antara 2600 dan 2200 SM).

Hampir semua obat-obatan Mesir kuno mengandung madu dicampur dengan anggur dan susu. Mereka juga menggunakan madu untuk mengawetkan orang mati. Madu memiliki sifat antibakteri yang membantu menyembuhkan infeksi pada luka.

Madu Di Yunani Kuno
Oenomel adalah minuman Yunani kuno yang terdiri dari madu dan jus anggur difermentasi yang digunakan sebagai obat tradisional untuk asam urat dan gangguan saraf tertentu.

Hippocrates, ilmuwan besar Yunani, meresepkan madu diberikan sebagai oxymel (cuka dan madu) untuk nyeri, hydromel (air dan madu) untuk haus, dan campuran madu, air dan berbagai zat obat untuk demam akut.

Madu juga dimanfaatkan untuk kebotakan, kontrasepsi, penyembuhan luka, pencahar, batuk dan sakit tenggorokan, penyakit mata, antiseptik topikal, pencegahan dan pengobatan bekas luka.

Madu Dalam Kedokteran Islam Dalam sistem medis Islam, madu dianggap sebagai minuman sehat. Al-Qur'an dengan jelas menggambarkan nilai terapi yang potensial dari madu:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.” (QS. 16:68)

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan  Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. 16:69)

Selain itu, Nabi Muhammad SAW merekomendasikan penggunaan madu untuk pengobatan diare. Avicenna, dokter dan ilmuwan besar dari Iran, hampir 1000 tahun yang lalu, telah merekomendasikan madu sebagai salah satu solusi terbaik dalam pengobatan tuberkulosis.

Sumber: © 2013 Iranian Journal of Basic Medical Sciences

Artikel Terkait

Madu: Sejarah Warisan Pengobatan sejak Zaman Kuno
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email